http://www.sabili.co.id

 

EKSLUSIF HARUN YAHYA

 

DI BALIK PERANG IRAK

 

Meski seluruh dunia menentang, Amerika tetap menyerang Irak. Rencana penyerangan ini telah dipersiapkan puluhan tahun oleh para ahli strategi Israel. Dalam upayanya mewujudkan strategi pelemahan atau pemecahbelahan negara-negara Arab Timur Tengah, Israel memasukkan Mesir, Suriah, Iran dan Saudi Arabia dalam daftar sasaran berikutnya. Saat tulisan ini disusun, Amerika Serikat (AS) telah penggempuran Irak, bahkan perang nyaris usai. Di balik sikap keras kepala AS ini, sebenarnya Israel adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas pertumpahan dara dan penderitaan di Timur Tengah sejak awal abad kedua puluh. Israel mempunyai sejarah panjang hendak memecah belah Irak.

 

 

Rencana Israel Membagi Irak

 

Laporan berjudul A Strategy for Israel in the Nineteen Eighties oleh Kivunim, majalah berbahasa Ibrani yang diterbitkan oleh Departemen Informasi Israel menyebutkan, bahwa Timur Tengah harus menjadi pemukiman Israel. Laporan ini ditulis oleh Oded Yinon, seorang wartawan Israel

 

yang mempunyai kedekatan dengan Kementerian Luar Negeri Israel, saat itu.

Irak, negeri kaya minyak yang terus dirundung perpecahan di dalam menjadi sasaran Israel. Bagi Israel, mengakhiri Irak dulu lebih penting dibanding menghabisi Suriah. Sebagian besar penduduk Irak adalah Syiah, sebagian lagi dari kelompok Sunni. Selain itu, di wilayah Utara ada suku Kurdi. Dari total penduduk Irak, hanya kaum elit dan sejumlah kecil saja yang memiliki andil menjalankan kekuasaan dan politik negara.

 

Di Irak, pembagian provinsi dilakukan berdasarkan garis suku dan agama, sebagaimana yang diterapkan semasa Khalifah Utsmaniyyah. Secara sederhana, Irak akan terbagi atas negara-negara kecil di sekitar tiga kota utama; Basra, Baghdad dan Mosul. Wilayah Syiah di Selatan akan terpisah dari wilayah Sunni dan juga Kurdi di Utara.

 

Skenario ini sudah terlaksana pasca Perang Teluk tahun 1991. Irak, secara efektif telah dibagi menjadi tiga wilayah dengan batasan zona larangan terbang yang diterapkan oleh Amerika. Penerapan strategi Israel dilakukan sejak Saddam menyerbu Kuwait pada tanggal 1 Agustus 1990. Israel menjadi pemimpin bagi kekuatan-kekuatan yang mendorong terjadinya

krisis itu. Israel adalah pendukung tergigih sikap yang dianut AS menyusul serangan terhadap Kuwait. Kalangan Israel bahkan menganggap AS bersikap moderat, dan menginginkan adanya kebijakan yang lebih keras. Bahkan Presiden Israel, Chaim Herzog, menganjurkan agar AS menggunakan bom nuklir. Di sisi lain, lobi Israel di AS tengah berupaya untuk mendorong terjadinya serangan berskala luas atas Irak.

Seluruh serangan AS atas Irak ini sesungguhnya dirancang demi kepentingan Israel. Komentator terkenal, Pat Buchanan, merangkum pandangan ini dalam kalimat, "Hanya ada dua kelompok yang menabuh genderang perang di Timur Tengah - Kementerian Pertahanan Israel dan kelompok pendukungnya di Amerika Serikat."

Israel serius dalam hal ini. Aksi kampanye sebagian besar memang dilakukan secara rahasia, dan melibatkan Mossad, Dinas Rahasia Israel. Mantan agen Mossad, Victor Ostrovsky, memberikan informasi penting mengenai hal ini. Menurutnya, Israel berkeinginan melancarkan peperangan bersama AS melawan Saddam jauh sebelum krisis Teluk. Bahkan Israel telah memulainya beberapa saat setelah Perang Iran-Irak berakhir. Ostrovsky melaporkan bahwa departemen Perang Psikologi Mossad (LAP – LohAma Psicologit) melancarkan kampanye ampuh menggunakan teknik disinformasi. Kampanye ini ditujukan untuk menampilkan Saddam sebagai seorang diktator berdarah dan ancaman bagi perdamaian dunia. (Victor Ostrovsky, The Other Side of Deception, hlm. 252-254).

 

Agen Mossad tentang Perang Teluk Ostrovsky menjelaskan, Mossad menggunakan para agennya dan simpatisannya di seluruh dunia dalam kampanye untuk hal ini. Tak kurang dari Amnesty International atau Sayanim, sukarelawan Yahudi di Kongres AS dikerahkan untuk hal ini. Salah satu cara kampanye yang digunakan adalah cara keji seperti rudal-rudal Irak yang diluncurkan ke sasaran sipil saat perang Iran-Irak. Di kemudian hari, rudal-rudal yang sesungguhnya diarahkan oleh Mossad dengan bantuan satelit dari Amerika ini dijadikan alat propaganda. Setelah mendukung Saddam selama perangmelawan Iran, Israel kini menampilkan Saddam sebagai monster.

 

Ostrovsky menulis: Para petinggi Mossad mengetahui, jika berhasil menampilkan Saddam sebagai sosok yang jahat dan bisa menjadi ancaman bagi pasokan minyak Teluk, maka Saddam tak akan dibiarkan begitu saja. Mereka akan menghancurkan kekuatan dan senjata Irak. (Victor Ostrovsky, The Other Side of Deception, hlm. 254) Israel sangat keras dalam hal ini. Pada tanggal 4 Agustus 1990, Menteri Luar Negeri Israel, David Levy, mengeluarkan ancaman menggunakan bahasa diplomatis kepada William Brown, Duta Besar AS untuk Israel. Ia mengatakan bahwa Israel menginginkan AS memenuhi tujuan-tujuan yang telah ditetapkan Israel sejak awal krisis Teluk. Dengan kata lain, AS harus menyerang Irak. Menurut Levy, jika AS tidak melakukannya, Israel akan melancarkannya sendiri. (Andrew and Leslie Cockburn, Dangerous Liaison, hlm. 356.)

 

Sungguh, akan sangat menguntungkan Israel jika AS menyerang Irak. Israel menang tanpa turut berperang, dan inilah yang terjadi. Meski tak terlibat langsung, kalangan Israel terlibat aktif dalam perencanaan perang ini. Sejumlah pejabat AS yang terlibat merancang Operation Desert Storm (Operasi Badai Gurun) menerima arahan taktis jitu dari kalangan Israel bahwa "cara terbaik melukai Saddam adalah dengan melancarkan serangan terhadap keluarganya."

 

Kampanye propaganda yang diilhami Mossad sebagaimana dilaporkan Ostrovsky membentuk dukungan publik dalam Perang Teluk. Sekali lagi, para pembantu lokal Mossad-lah yang berperan menyulut api peperangan. Lembaga lobi Hill and Knowlton, yang dikendalikan oleh Tom Lantos dari lobi Israel, mempersiapkan rancangan yang dramatis guna meyakinkan para

anggota Konggres perihal perang melawan Saddam.

 

Turan Yavuz, wartawan Turki terkemuka, memaparkan kejadian pada tanggal 9 Oktober 1990. Lembaga Hill and Knowlton mengadakan pertemuan dengan kongres membahas kebiadaban Irak. Dalam pertemuan tersebut didatangkan sejumlah saksi mata yang menceritakan kebiadaban tentara-tentara Irak atas perintah Saddam. Tentara-tentara itu membunuh bayi-bayi yang baru lahir di bangsa rumah sakit. Saksi mata tersebut dengan rinci mengatakan, tentara Irak telah membunuh 300 bayi di satu rumah sakitsaja. Berita itu sungguh mengguncang anggota kongres saat itu.

 

Tapi, belakangan terbongkar bahwa saksi mata yang dihadirkan oleh Hill and Knowlton adalah anak perempuan Duta Besar Kuwait untuk Washington. Kendatipun demikian, kisah yang dituturkan anak perempuan tersebut sudah cukup bagi para anggota Kongres untuk menjuluki Saddam sebagai "Hitler". (Turan Yavuz, ABD’nin Kürt Kartý (The US’ Kurdish Card), hlm. 307)

Hal ini mengarahkan pada satu kesimpulan: Israel berperan penting dalam kebijakan Amerika Serikat untuk melancarkan perang pertamanya atas Irak. Perang yang kedua tidaklah banyak berbeda.

 

Berlawanan dengan keyakinan masyarakat luas, rencana menyerang Irak dan menggulingkan rezim Saddam Hussein dengan kekuatan senjata telah dipersiapkan dan dicanangkan dalam agenda Washington sejak lama. Bahkan sebelum dilancarkannya "perang mewalan terror," yang mengemuka pasca peristiwa 11 September. Isyarat pertama atas rencana ini mengemuka pada tahun 1997. Sekelompok ahli strategi pro-Israel di Washington mulai memunculkan skenario penyerangan atas Irak dengan memanfaatkan lembaga think-tank neo-konservatif, yang dinamakan PNAC, Project for The New American Century.

 

Sebuah artikel berjudul "Invading Iraq Not a New Idea for Bush Clique: 4 Years Before 9/11 Plan Was Set" (Penyerangan atas Irak Bukan Gagasan Baru bagi Kelompok Bush) yang ditulis William Bruch dan diterbitkan di the Philadelphia Daily News, memaparkan fakta berikut: Rumsfeld, Wakil Presiden Dick Cheney, dan sekelompok kecil ideolog konservatif telah memulai wacana penyerangan Amerika atas Irak sejak 1997 - hampir empat tahun sebelum serangan 11 September dan tiga tahun sebelum Presiden Bush memegang pemerintahan.

 

Sekelompok pembuat kebijakan sayap kanan yang terdengar mengkhawatirkan, yang tidak begitu dikenal, yang disebut Proyek bagi Abad Amerika Baru, atau PNAC - yang berhubungan erat dengan Cheney, Rumsfeld, deputi tertinggi Rumsfeld, Paul Wolfowitz, dan saudara lelaki Bush, Jeb - bahkan mendesak presiden waktu itu, Clinton, untuk menyerbu Irak di bulan Januari 1998. (William Bunch, Philadelphia Daily News, 27 Jan. 2003)

 

 

Minyakkah yang Menjadi Tujuan Sebenarnya

 

Mengapa para anggota PNAC sangat bersikukuh untuk menggulingkan Saddam? Meskipun minyak melatarbelakangi pernyataan kebijakan PNAC terhadap Irak, namun tampaknya ini bukanlah pendorong utama. Ian Lustick, seorang profesor ilmu politik Universitas Pennsylvania dan ahli Timur Tengah, yang juga pengecam kebijakan Bush mengatakan, bahwa minyak dipandang oleh para pendukung perang sebagai cara untuk membayar operasi militer yang sangat mahal.

 

"Saya dari Texas, dan setiap orang perminyakan yang saya kenal menentang tindakan militer terhadap Irak," kata Schmitt dari PNAC. "Pasar minyak tidak perlu diganggu."

 

Lustick yakin bahwa dalang tersembunyi yang sangat berpengaruh kuat kemungkinan adalah Israel. Ia mengatakan para pendukung perang dalam pemerintahan Bush yakin bahwa parade pasukan di Irak akan memaksa Palestina menerima rancangan perdamaian yang menguntungkan Israel…(William Bunch, "Invading Iraq not a new idea for Bush clique" Philadelphia Daily News, 27 Jan. 2003)

Jadi, inilah dorongan utama di balik rencana untuk menyerang Irak: membantu strategi Israel di Timur Tengah. Fakta ini juga ditengarai oleh sejumlah ahli Timur Tengah lainnya.

 

Cengiz Çandar, ahli Timur Tengah asal Turki, memaparkan kekuatan sesungguhnya di balik rencana penyerangan atas Irak ini. Siapakah yang mengarahkan serangan atas Irak? Wakil Presiden Dick Cheney, Menteri Pertahanan Rumsfeld, Penasihat Keamanan Dalam Negeri Condoleeza Rice. Mereka inilah para pendukung "tingkat tinggi" terhadap penyerbuan tersebut. Akan tetapi, selebihnya dari gunung es tersebut sungguh lebih besar dan lebih menarik.

 

Terdapat sejumlah "lobi." Yang terdepan di barisan lobi ini adalah tim Jewish Institute for Security Affairs (JINSA). JINSA, adalah kelompok kanan Israel pro-Likud yang dikenal memiliki hubungan dekat dengan industri-industri senjata AS. Mereka memiliki hubungan erat dengan "lobi persenjataan" Lockheed, Northrop, General Dynamics dan industri militer Israel. Prinsip mendasar JINSA adalah, menjadikan keamanan AS dan Israel sebagai hal yang tak terpisahkan. Dengan kata lalin, keduanya adalah sama.

 

Tujuan JINSA tidak terbatas pada merobohkan rezim Saddam di Irak, tetapi juga mendukung penggulingan rezim Saudi Arabia, Syria, Mesir dan Iran dengan logika "perang total", yang diikuti dengan "penegakan" demokrasi. Dengan kata lalin, sejumlah Yahudi Amerika yang seirama dengan kelompok-kelompok paling ekstrim di Israel sekarang terdiri atas orang-orang yang mendukung perang di Washington. (Cengiz Çandar, "Iraq and the ‘Friends of Turkey’ American Hawks", Yeni Þafak, 3 September 2002.)

 

 

Proyek Israel "Penguasaan Dunia secara Diam-diam"

 

Terdapat kalangan di Washington yang mendorong terjadinya perang yang awalnya dilancarkan terhadap Irak. Setelah itu terhadap Saudi Arabia, Syria, Iran dan Mesir. Ciri mereka paling kentara adalah mereka berbaris di samping, dan bahkan sama dengan, "lobi Israel".

 

Tak menjadi soal betapa sering mereka berbicara tentang "kepentingan Amerika," orang-orang ini sebenarnya mendukung kepentingan Israel. Strategi melancarkan peperangan terhadap seluruh Timur Tengah yang menjadikan seluruh rakyat bangkit melawan AS ini tidak akan menguntungkan AS. Penggunaan strategi seperti ini hanya mungkin dapat dilakukan jika AS tunduk pada Israel, melalui lobi Israel, yang luar biasa berpengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri negara tersebut.

 

Di belakang strategi yang mulai dijalankan pasca 11 September dan yang ditujukan untuk merubah peta seluruh dunia Islam, terdapat rencana rahasia Israel untuk "menguasai dunia." Sejak pendiriannya, Israel telah bercita-cita merubah peta Timur Tengah, menjadikannya mudah diatur sehingga tidak lagi menjadi ancaman baginya. Israel telah menggunakan pengaruhnya di AS untuk tujuan ini di tahun-tahun terakhir. Keadaan pasca 11 September memberi Israel kesempatan yang selama ini telah dicari-carinya. Para ideolog pro-Israel yang selama bertahun-tahun secara tidak benar telah menyatakan bahwa Islam sendirilah yang –dan bukan sejumlah kelompok radikal militan yang berbaju Islam—memunculkan ancaman terhadap Barat dan AS. Merekalah yang berusaha meyakinkan kebenaran gagasan keliru tentang "benturan peradaban" dan telah berupaya mempengaruhi AS agar memusuhi dunia Islam setelah peristiwa 11 September. Sudah sejak tahun 1995, Israel Shahak dari Universitas Hebrew, Jerusalem, menuliskan keinginan Perdana Menteri Rabin sebagai "gagasan perang melawan Islam yang dipimpin Israel."

 

Nahum Barnea, penulis opini dari surat kabar Israel, Yediot Ahronot, menyatakan di tahun yang sama, bahwa Israel tengah mengalami kemajuan "[untuk] menjadi pemimpin Barat dalam perang melawan musuh, yakni Islam." (Israel Shahak, "Downturn in Rabin’s Popularity Has Several Causes", Washington Report on Middle East Affairs, Maret 1995.) Dunia kini tengah menyaksikan tahap demi tahap penerapan kebijakan Israel dalam memecah-belah Irak, yang telah dirancang di Kongres Zionis Dunia pada tahun 1982.

Apa yang perlu dilakukan menghadapi kenyataan ini?

 

1) Kegiatan melobi perlu dilakukan dalam rangka menandingi pengaruh lobi Israel di Amerika Serikat. Ini semua untuk membangun dialog antara AS dan dunia Islam, dan untuk mengajaknya mencari cara damai memecahkan permasalahan serupa lainnya. Banyak kalangan AS menginginkan negeri mereka mengambil kebijakan Timur Tengah yang lebih adil. Banyak negarawan, ahli strategi, wartawan dan cendekiawan telah mengungkapkan hal ini, dan gerakan "perdamaian antar peradaban" harus digulirkan dengan bekerjasama dengan kalangan tersebut.

 

2) Pendekatan yang mengajak pemerintah AS kepada pemecahan masalah secara damai haruslah dibawa ke tingkat pemerintahan dan masyarakat sipil. Bersamaan dengan ini semua, jalan keluar paling mendasar terletak pada sebuah proyek yang dapat menyelesaikan seluruh permasalahan antara dunia Islam dan Barat. Sebuah aksi yang mampu mengatasi perpecahan, penderitaan dan kemiskinan di dunia Islam dan sama sekali merubahnya, dan ini adalah Persatuan Islam.

 

Perkembangan terakhir telah menunjukkan bahwa seluruh dunia, tidak hanya wilayah-wilayah Islam, memerlukan sebuah "Persatuan Islam." Persatuan ini haruslah mampu meredam unsur-unsur radikal di Dunia Islam, dan membangun hubungan baik antar negara-negara Islam dan Barat, khususnya Amerika Serikat. Persatuan ini juga hendaknya membantu menemukan jalan keluar bagi induk dari seluruh permasalahan yang ada: perseteruan Arab-Israel. Hanya dengan penarikan diri Israel hingga batas wilayahnya sebelum tahun 1967, dan pengakuan bangsa Arab atas keberadaannya, akan ada perdamaian sesungguhnya di Timur Tengah. Dan umat Yahudi dan Muslim - yang keduanya keturunan Nabi Ibrahim dan beriman pada satu Tuhan saja - dapat hidup berdampingan di Tanah Suci, sebagaimana yang telah mereka tunjukkan di abad-abad yang lalu. Dengan demikian, Israel takkan lagi memerlukan strategi untuk mengganggu keamanan atau memecah-belah negara-negara Arab. Dan Israel takkan menghadapi balasan atas pendudukannya dalam bentuk kekerasan dan ketakutan terus-menerus terhadap upaya penghancuran terhadapnya. Lalu, keduanya, anak-anak Israel dan Irak (juga Palestina) dapat tumbuh dalam lingkungan yang damai dan aman. Inilah wilayah Timur Tengah yang seharusnya didambakan dan berusaha diwujudkan oleh setiap orang yang bijak.

 

Artikel ini kerjasama antara Harun Yahya Internasional-Indonesia dengan SABILI.

 

 

 Back to Top   Back to Materi Seputar Dunia Islam   Back to Main Menu