Injil Kitab Matius 5: 38 – 48. (Injil Yesus/Injil Perjanjian Baru)

  1. Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
  2. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
  3. Dan kepada orang yang hendak mengadukan (menuntut; peny.) engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
  4. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
  5. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
  6. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
  7. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
  8. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak–anak Bapamu (tuhan Bapa; peny.) yang disorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
  9. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai (tukang palak/preman/tukang peras/penjahat; peny.) juga berbuat demikian?
  10. Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara–saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Alahpun berbuat demikian?
  11. Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang disorga adalah sempurna."

 

Injil Kitab Lukas 6: 27 – 36. (Injil Yesus/Injil Perjanjian Baru)

  1. "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu.

  2. Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.

  3. Barang siapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barang siapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu.

  4. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.

  5. Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.

  6. Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang–orang berdosapun mengasihi juga orang–orang yang mengasihi mereka.

  7. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang–orang berdosapun berbuat demikian.

  8. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang–orang berdosapun meminjamkan kepada orang–orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.

  9. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu, dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan (pengembalian; peny.), maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak–anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang–orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang–orang jahat.

  10. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.

 

            Dalam Kristen/Yahudi/Israel tidak ada hukum atau pembalasan atau sanksi bagi pelanggar ketertiban umum, tidak ada hak untuk membela diri dari perlakuan yang tidak adil dan sewenang–wenang, tidak ada hak atas keadilan. Bahkan bila mereka disiksa dan dipermainkan mereka harus bersyukur dan melayani dengan sebaik–baiknya dalam artian senang hati, ramah, sopan dan lembut. Setiap pembalasan apapun yang adil dan setimpal atas kesalahan yang telah dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dipandang sebagai perbuatan membalas dendam dan itu merupakan perbuatan yang sangat tercela dan tidak dibela/dibalaskan /dilindungi/dijaga oleh orang lain. Adakah Yesus dibela/dilindungi/dibalaskan oleh tentara Romawi ketika Yesus dibawa menuju Golgota untuk diSalibkan, sementara dalam perjalanan, Yesus disiksa, dianiaya, dilempar batu, dicaci maki, diludahi dan lain sebagainya oleh semua orang, oleh setiap penduduk dimana Yesus lewat?. Bahkan menurut tafsir Injil Kitab Matius karangan L. Timersma, percetakan Vorking, Bandung, tahun 1938, halaman 40, menyatakan antara lain bahwa tafsir dari Injil Kitab Matius pasal 5 ayat 41 (Injil Yesus/Injil Perjanjian Baru) "Barang siapa yang memaksamu berjalan satu mil berjalanlah dengan dua mil", yang ditafsirkan oleh beliau dengan: bahwa setiap orang Kristen/Yahudi/Israel bila dipaksa untuk menjadi budak seseorang tidak boleh menolak dan bahkan harus menjadi budak yang baik. Sedangkan kehidupan budak dalam ajaran Injil baik itu Injil Perjanjian Lama maupun Injil Perjanjian Baru adalah sangat buruk, tidak ubahnya binatang yang sangat hina yang hanya diperas manfaatnya tanpa imbalan apapun (coba baca sejarah dan ajarannya Injil). Ajaran ini juga menyatakan bahwa orang–orang Kristen/Yahudi/Israel bila memiliki tanggung jawab dan kewajiban atau beban, mereka harus membayarnya atau mengerjakannya minimum dua kali lipat dari yang seharusnya mereka lakukan atau orang lain lakukan (bila orang tersebut memiliki tanggung jawab dan kewajiban atau beban yang sama dengan orang–orang Kristen/Yahudi/Israel), kemudian hanya boleh menerima haknya atas kewajiban yang telah dibayarkan itu maksimum setengahnya dari hak mereka sesungguhnya atau orang lain yang memiliki hak yang sama (bila orang tersebut memiliki hak yang sama dengan orang–orang Kristen/Yahudi/Israel) dan sisanya sama sekali tidak boleh mereka terima disampaikan oleh siapapun dalam ujud apapun sampai kapanpun atau malahan mereka yang harus membayar kepada tempat ia bekerja bukannya tempat mereka bekerja yang membayar kepada mereka. Orang Kristen/Yahudi/Israel harus melakukan kewajibannya minimal dua kali lipat dari yang dilakukan oleh orang lain bila itu dilakukan oleh orang lain kemudian hanya menerima gaji maksimum setengah dari gaji karyawan lainnya yang memiliki kewajiban sama atau bahkan merekalah yang harus membayar kepada tempat mereka bekerja dan mereka hanya menjadi karyawan dengan posisi yang paling rendah. Hal yang mana sesungguhnya merupakan ajaran agama mereka, tetapi pada prakteknya sesungguhnya hal tersebut diterapkan oleh mereka kepada pihak di luar agama mereka karena mereka tidak mampu menjalankannya, sedangkan mereka menjalankan sebaliknya, dan hal ini diterapkan oleh mereka di dunia ini setiap mereka berhubungan dengan umat Islam, misalnya gaji Manager bagi Kristen/Yahudi/Israel adalah Rp 4.000.000,– sampai dengan Rp 19.000.000,– sedangkan umat Islam dibayar Rp 400.000,– sampai Rp 700.000,–, sedangkan General manager Kristen/Yahudi/Israel menerima gaji Rp 20.000.000,– sampai Rp 50.000.000,– sedangkan umat Islam menerima Rp 1.500.000,– sampai dengan Rp 2.500.000,– semuanya perbulan, sehingga dapat dilihat dengan nyata, siapa saja yang memiliki kendaraan-kendaraan kelas menengah keatas bahkan yang mewah dan yang menghuni perumahan real estate kelas menengah ke atas bahkan yang mewah, bila ada umat Islam yang memiliki, dapat diyakini bahwa iman umat Islam itu rusak.. Bila umat Islam  (di Indonesia) mau mendirikan Perusahaan, maka modal setornya benar–benar harus disetorkan ke bank dan benar–benar dibuktikan dengan menyerahkan slip setoran modal setor ke bank kepada Departemen Kehakiman, tetapi bila Kristen/Yahudi/Israel mau mendirikan perusahaan, maka modal setornya bisa fiktif, kalaupun juga harus menyerahkan slip setoran (biasanya tidak perlu) mereka bisa memperoleh dengan mudah dari bank. Bila orang–orang Kristen/Yahudi/Israel ingin bekerja, maka cukup dengan surat dari gereja saja atau menunjukkan KTP (Kartu Tanda Penduduk) yang beragama Kristen/Yahudi/Israel untuk mendapatkan posisi jabatan yang tinggi dalam pekerjaannya dan dengan fasilitas yang tinggi pula walaupun sebenarnya orang tersebut memiliki kwalifikasi yang jauh lebih rendah dari yang dibutuhkan oleh jabatan dan fasilitas tersebut, sementara bila umat Islam ingin bekerja, maka dibebankan syarat dan kwalifikasi yang berat–berat, kalaupun diberi jabatan yang memadai fasilitas dan hak–haknya disunat atau minim, demikian pula dalam hal memperoleh modal usaha (hal ini jarang terjadi, kecuali orang tersebut diyakini imannya rusak, bila diyakini iman orang tersebut kuat, maka akan benar–benar diusahakan agar orang tersebut sama sekali tidak memperoleh sumber penghidupan sampai orang tersebut minimal rusak imannya kepada Allaah S. W. T.). Kristen/Yahudi/Israel tidak boleh menjabat posisi yang tinggi di manapun mereka berada bahkan untuk kalangan dalam mereka sendiri seperti misalnya Gereja dll., semakin tinggi posisinya semakin mutlak tidak boleh dijabat oleh orang–orang Kristen/Yahudi/Israel, tetapi yang dijalankan justru sebaliknya, semakin tinggi jabatan umat Islam tidak boleh mendudukinya, yang boleh hanya kalangan Kristen/Yahudi/Israel, sementara itu umat Islam hanya boleh menjabat jabatan yang paling hina dan rendah. Demikian pula dengan pembelian barang–barang, Kristen/Yahudi/Israel bila mendapat barang yang sama, maka Kristen/Yahudi/Israel harus membayar dengan dua kali lipatnya dan mutunya kelas dua, tetapi kenyataannya hal itu diterapkan terhadap umat Islam, sementara untuk mereka untuk barang yang sama, mereka membayar setengah harga dengan mutu kelas satu, segala sesuatu yang berat–berat dan klejam–kejam dalam ajaran Kristen/Yahudi/Israel seperti yang tercantum dalam ajaran “Selibat” atau “Asketisme” yakni ajaran yang mengajarkan agar umat Kristen/Yahudi/Israel hidup dalam penderitaan, kesusahan dan kesengsaraan diterapkan dua kali lipat terhadap umat Islam, sedangkan yang ringan–ringan dan enak–enak dari ajaran Islam mereka paksakan umat Islam untuk meninggalkannya dan mereka menjalankannya. Sehingga mereka kaya dan semakin kaya sedangkan umat Islam miskin dan semakin miskin setelah itu mereka mengatakan bahwa ajaran agama Islam mengajarkan, membawa dan membuat kemiskinan bagi umatnya padahal hal tersebut dibuat oleh mereka dengan membalik ajaran agama, kemudian mereka pamer akan kekayaan yang mereka dapat dari memeras dan menindas umat Islam dan mendorong umat Islam untuk berlomba–lomba mencari harta dunia agar menjadi kaya seperti mereka untuk kemudian semakin mereka tenggelamkan kedalam kemiskinan dan kehinaan serta kenistaan. Jadi selama ini, ajaran–ajaran Islam yang asli dan murni serta baik–baik mereka terapkan untuk diri mereka dan mereka paksa umat Islam untuk meninggalkan ajaran tersebut sedangkan ajaran–ajaran Kristen yang buruk–buruk dan berat–berat mereka tinggalkan dan diterapkan untuk umat Islam, hal ini mereka suruhkan kepada umat mereka untuk melakukan hal tersebut dalam setiap aktivitas kehidupan. Tidak akan ada manusia yang mampu untuk melakukan ajaran mereka ini, karena sudah kodrat manusia untuk tidak mau menerima perlakuan yang tidak adil dari manusia lainnya dengan suka rela, apalagi terus–menerus. Hal ini mendorong mereka untuk menghindarkan hal tersebut terjadi pada diri mereka dengan berlomba–lomba untuk mendahului melakukan perbuatan tidak adil, kejam dan sewenang–wenang terhadap orang lain agar mereka tidak didahului orang lain, toh orang lain tidak akan boleh membela diri, dan bila orang tersebut membela diri, mereka akan marah, karena orang tersebut tidak memenuhi ajaran tersebut. Agama macam apakah ini yang mendorong umatnya untuk berlomba–lomba dalam kebejatan dan kejahatan serta menyakiti orang lain padahal mereka tidak mau diperlakukan demikian? Adakah praktek yang demikian ini sesuai dengan ajaran mereka yang menekankan Kebenaran dan Cinta kasih terhadap umat manusia? Ajaran yang lain menyatakan bahwa mereka akan masuk surga hanya bila mereka mengaku beragama Kristen/Yahudi/Israel, karena dosa–dosa mereka telah 'ditebus' dengan penyaliban Yesus, dan sangat jarang terdengar ancaman hukuman neraka bagi mereka yang bersalah karena melanggar hukum–hukum agama, sehingga bagi orang awam mereka mendapatkan gambaran bahwa mereka boleh melakukan apapun, entah itu berzina, membunuh, memfitnah, menipu, dll. Ajaran apakah ini yang tidak mampu mengendalikan umatnya untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di dunia ini, semata–mata karena tidak mampu menerapkan sanksi hukum kepada umat mereka sendiri, bahkan hukum agama (Tuhan) cenderung mengikuti kehendak manusia di dunia ini, misalnya dengan adanya gerakan gereja Presbiterian di Amerika yang mengusahakan pembebasan hukuman bagi pezina (baca: free sex), homo sex dan lesbian baru–baru ini dengan melegalisasikan kegiatan tersebut di gereja, bahkan pada masa lalu pernah ada usaha untuk memperjual belikan (mempermainkan) hukum Tuhan dengan menerapkan tarif tertentu atas kesalahan yang dilakukan oleh umat mereka sehingga terbebas dari hukum neraka atau hingga kini mengampunkan kesalahan mereka dengan sekedar pengakuan dosa, dalam hal ini gereja mendahului (melangkahi) keputusan Tuhan dalam menghukum orang–orang yang bersalah, sehingga mendorong umat mereka melakukan kesalahan akibat longgarnya sanksi hukum, bahkan bisa dipermain–mainkan. Inikah yang dikatakan hukum mereka tidak kejam yang mana mereka bisa mempermainkan hukum Tuhan di dunia ini? Dari mana datangnya otoritas atau hak Gereja untuk menentukan hukuman yang akan dijatuhkan oleh Tuhan kepada manusia? Dengan pandangan ini berarti Tuhan bisa diatur oleh Gereja, tentang apa saja hukum yang akan dilaksanakan oleh Tuhan. Di mana letaknya ke maha kuasaan Tuhan? Dalam ajaran Kristen/Yahudi/Israel ada kebathilan dan kejahiliyahan, maka umat Islam wajib untuk meluruskannya kembali, sehingga menjadi kembali kejalan yang benar dan segala sesuatu berjalan sesuai dengan yang seharusnya serta segala sesuatu kembali kepada tempat yang seharusnya, bukanmya dibolak–balik.

 

 Back to Top   Back to Situasi Sesungguhnya Seputar Kristen dan Yahudi penuh dengan Kebencian   Back to Main Menu