Republika

Kamis, 24 Januari 2002

Jilbab Misye

        Pilihan berat harus diambil Misye A Sasongko akhir tahun lalu. Setelah mengabdi selama hampir sepuluh tahun, ia harus meninggalkan Sogo Indonesia, pusat perbelanjaan megah itu.

        Saat itu, ia sedang semangat-semangatnya menekuni karier sebagai Section Manager Departemen Advertising dan Promosi. Tapi, satu "kesalahan" ia buat kepada perusahaan tempatnya bekerja: menolak menanggalkan jilbab.

        "Kesalahan" yang sama juga dilakukan dua orang karyawati Sogo yang lain, Fauziah dan Mumun. Kedua muslimah ini lebih dulu keluar jauh sebelum dia.

"Saya kekeuh berjilbab, manajer saya kekeuh melarang saya berjilbab.

        Saya tidak tahan disindir-sindir setiap hari dan dibiarkan status menggantung.

Maka saya pilih keluar," ujar Fauziah, kemarin (23/1).

        Misye mencoba bertahan seperti Fauziah, tetap memakai jilbab ke ruang kerjanya. Beberapa kali dipanggil atasan, tak membuatnya surut. "Saya tetap menyelesaikan kerja, kendati di jajaran manajer saya sudah tidak dianggap," ujarnya. Ujung-ujungnya, ia dipindahkan ke Sogo Surabaya, setelah turun Surat Instruksi dari atasannya bernomor 2302/SKEP/MTS/HR/PLI/PI/XI/2001 yang memintanya segera melakukan serah terima tugas dengan penggantinya.

        Di Surabaya, ia dibiarkan menggantung tanpa jelas job description-nya. "Saya tak tahan diintimidasi begitu," ujarnya. Maka ia pun menandatangani surat pengunduran diri yang disodorkan atasannya.

        Keputusan Misye untuk "menyerah" disesalkan beberapa anak buahnya. "Saya berharap, dengan Ibu Misye berjilbab, kebijakan bisa berubah. Dia juga seorang manajer. Dan harapan itu pupus sudah," ujar Adinda, sebut saja begitu, salah seorang SPG (sales promotion girl) Sogo Plaza Indonesia.

        Menurutnya, ada lebih dari tiga puluh muslimah yang bekerja di Sogo harus bongkar kerudung di toilet sebelum masuk kerja. Jika dijumlah dengan seluruh karyawan di dua store SOGO lainnya --Kelapa Gading dan Plaza Senayan-- maka angkanya akan lebih banyak lagi. Mereka juga seringkali men-jamak shalatnya karena keterbatasan waktu.

        Jangankan untuk shalat, katanya, ke kamar mandi pun mereka harus minta izin atasan. Ia menuturkan, seorang manajer di pusat perbelanjaan mahal itu menegurnya dengan sinis ketika izin pipis-nya mulur menjadi 15 menit karena harus shalat. "Kalau mau tetap kerja di sini, tak usah shalat," ujarnya menirukan.

        Namun, perlakuan salah seorang manajer itu justru menimbulkan simpati rekan-rekannya. Sepekan sekali, mereka mengadakan pengajian bersama --di luar tempat kerja. "Kadang-kadang di Masjid Al Azhar, atau bergabung dengan kelompok pengajian Grand Hyat," timpal rekannya, yang juga menolak ditulis namanya. Misye kerap terlibat di acara pengajian itu.

        Melihat semangat bekas rekan kerjanya itu, Misye memutuskan untuk tidak berdiam diri. Ia mendatangi berbagai lembaga --Komnas HAM, YLBHI, MUI, dan FPI-- memperjuangkan haknya. Gayung bersambut, tak sampai sebulan, Tim Bantuan Hukum FPI melayangkan surat kesediaan memberikan bantuan advokasi.

        "Kita akan meminta pihak Sogo untuk memberikan klarifikasi," ujar Ketua BHF Ayuk F Shahab. Ia juga akan melakukan upaya hukum jika memang terbukti ada unsur pelanggaran hak dalam kasus Misye.

        Menurut Wirda, staf public relation Plaza Indonesia, tempat Sogo menghuni tiga lantainya, tidak ada pelarangan mengenakan busana muslimah di pusat perbelanjaan itu. "Kalau di Plaza Indonesia, sih, tidak ada masalah. Banyak teman-teman saya yang pake (kerudung). Saya kurang tahu kalau Sogo memberlakukan aturan itu," ujarnya yang juga berkerudung.

        Ketika Republika mengkonfirmasikan masalah ini, pihak manajemen Sogo tidak berada di tempat. Seorang staf bernama Kencana menyanggah ada kasus PHK berkaitan dengan pemakaian busana muslimah. "Tak ada itu," ujarnya singkat.

        Ketika ditanyakan mengenai aturan pelarangan berjilbab, ia menyatakan tidak ada kebijakan (pelarangan) itu di tempatnya bekerja. "Yang ada adalah aturan mengenakan uniform. Kalau Anda masuk ke suatu perusahaan dan Anda dituntut untuk berpakaian seragam, ya, tentu Anda harus mematuhinya, 'kan?" ujarnya.

        Pakaian seragam di Sogo, katanya, sudah ada ketentuannya. Seluruh karyawan tanpa terkecuali, harus mematuhinya. "Perkara mereka (yang berjilbab) mau melepasnya dan memakai kembali sepulang kerja, itu terserah mereka masing-masing," ujarnya. Yang jelas, katanya, pakaian kerja dibuat untuk memudahkan karyawan dalam melaksanakan tugas. tri

 

Mengenai surat tanggapan dari Sogo yang dimuat di Harian Republika tanggal 29 Januari 2002, dengan ini perlu saya klarifikasi dan saya jelaskan sebagai berikut ;

 

1. Pada tanggal 15 Agustus 2001, saya dipanggil oleh Bapak Hidayat Bakri selaku asisten Dept.HRD Sogo Plaza Indonesia intuk menanggalkan jilbab. Dia mengatakan bahwa Sogo tidak memperkenankan karyawannya memakai jilbab. Ketika saya meminta peraturan tertulis, Bapak Hidayat mengatakan tidak ada peraturan secara tertulis, dan saya mengatakan kalau tidak ada peraturan secara tertulis berarti bukan peraturan sedangkan didalam Al Quran Surat An Nur 31 dan Surat Al-ahzab 59, Allah berfirman diwajibkan bagi kaum muslimat untuk memakai jilbab/kerudung. Saya merasa sebagai umat Islam dilecehkan karena Bapak Hidayat mengatakan bahwa didalam Al Quran juga tidak ada peraturan mengenai Sogo.

 

2. Bapak Ir.Handaka Santasa selaku Direktur Sogo dan selaku Kahumas Sogo melecehkan saya didepan para manager lainnya, dengan mengatakan bahwa pabila saya tetap ingin memakai jilbab, hendaknya saya mencari kerja ditempat lain karena Sogo mengikuti peraturan Jepang. Pendapat ini juga mengherankan karena kendati Sogo berasal dari Jepang, tapi di Indonesia perusahaan ini milik irang Indonesia juga bernama Samsul Nursalim dan istrinya Itjih Nursalim

 

3. Bapak Ir.Handaka juga mempersilakan saya jika ingin mengadukan hal ini ke Departemen Agama

 

4. Pada tanggal 7 Desember 2001, Bapak Rudi Tangkau selaku HRD Division Manager memanggil saya untuk mengundurkan diri dan saya ikhlas walaupun saya kehilangan pekerjaan. Tapi saya tidak ikhlas karena Sogo melecehkan umat Islam.

 

Demikian tanggapan dari saya, yang saya buat dengan sejujur-jujurnya. Allah Swt menjadi saksi dan Maha Mengetahui para hambaNya yang berbohong. Subhanallah, Maha Suci Allah.

 

Misye Sasongko

Republika, 4 Februari 2002.

 

Back to Top

Back to Situasi Sesungguhnya Seputar Kristen dan Yahudi penuh dengan Kebencian

Back to Main Menu