http://www.syariahonline.com

pranikah : beda pacaran dengan ta`aruf

Pengirim: ikhwah-yogyakarta

Date: 17/04/03

Time: 16:46

 

Pertanyaan

ass.ana pernah dengar kalau nikah islami itu tanpa "pacaran", akan tetapi menurut ana, yang dangkal ini,bagaimana bisa seseorang menikah jika si fulan tidak "mengenal" terlebih dahulu pasangannya, bagaimana jadinya jika sewaktu dalam perjalanan bahtera rumah tangga si fulan tahu kekurangan dan kelemahan pasangannya dan kemudian berpengaruh besar thdp kehidupan rumah tangganya.

Yang menjadi bahan pertanyaan ana adalah :

1. apakah benar 100 % dalam nikah islam itu tanpa didahului dgn ta'aruf, jika ada, apa macamnya dan bagaimana caranya ?

2. Sebenarnya apa sih definisi "pacaran" itu sampai-sampai menjadikan penasaran bagi orang awam seperti saya yg notabene ingin menjadi seorang islam yang sejati tetapi masih dangkal, terlepas dari sisi negatif "pacaran"?

3.Apakah boleh kita mensyaratkan pasangan sampai sedetail-detailnya demi terjaganya dan kenyamanan batin baik rumah tangga maupun pribadi, kan rosullullah menjual dagangannya dengan menyebutkan kelemahannya sehingga BELIAU dijuluki "Al Amin", dan apakah "mensyaratkan" itu dibilang terlalu duniawi ?

atas jawabannya ana ucapakan jazakumullah khoiran katsira.

Wass.

 

Jawaban

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Istilah pacaran sebenarnya tidak ada batasan bakunya, namun umumnya yang namanya pacran itu –apalagi di zaman permisif dan hedonis sekarang ini- tidak lain adalah hubungan lain jenis non mahram dengan segala aktifitas maksiatnya dari khalwat, zina mata, zina telinga dan sampai zina kemaluan.

Bahkan beberapa penelitian di berbagai tempat seperti di Yogyakarta beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa sebagian besar pasangan pacaran itu memang telah melakukan hubungan tidak senonoh mulai dari bercumbu, berpelukan, berciuman sampai persetubuhan. Parahnya, semua itu umumnya dilakukan oleh para mahasiswa yang nota bene terpelajar dan calon pemimpin bangsa.

Jadi hampir bisa dikatakan bahwa pacaran itu tidak lain adalah zina atau minimal mendekati wilayah zina yang memang haram dan dilarang oleh semua agama.

Sedangkan taaruf jsutru sangat berbeda dengan pacaran. Ta`aruf adalah sesuatu yang syar`I dan memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan taaruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Pacaran tujuannya lebih kepada kenikmatan sesaat, zina dan maksiat. Sedang taaruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.

Dalam pacaran, mengenal dan mengetahui hal-hal tertentu calon pasangan dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah pengenalan. Ibarat seorang yang ingin membeli mobil second tapi tidak melakukan pemeriksaan, dia Cuma memegang atau mengelus mobil itu tanpa pernah tahu kondisi mesinnya. Bahkan dia tidak menyalakan mesin atau membuka kap mesinnya. Bagaimmana mungkin dia bisa tahu kelemahan dan kelebihan mobil itu.

Sedangkan taaruf adalah seperti seorang montir mobil ahli yang memeriksa mesin, sistem kemudi, sistem rem, sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila ternyata cocok, maka barulah dia melakukan tawar menawar.

Ketika taaruf, seseorang baik pihak laki atau wanita berhak untuk bertanya yang mendetail, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Kedua belah pihak harus jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak jujur, bisa berakibat fatal nantinya.

Namun secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak pernah boleh untuk membawa pergi mobil itu sendiri. Silahkan periksa dengan baik dan kalau tertarik, mari bicara harga.

Dalam upaya taaruf dengan calon pasangan, pihak laki dan wanita dipersilahkan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan. Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya. Tidak boleh dilakukan Cuma berdua saja. Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya, bukan guru atau ustaznya. Jadi ta`aruf bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua.

Disinilah letak perbedaan antara pacaran dengan taaruf. Pacaran adalah jalan-jalan asyik berdua, jajan, nonton, bermesraan dan bercumbu. Sama sekali tidak ada porsi tentang persiapan real untuk hidup. Bahkan pacaran cenderung bohong dan menipu, karena umumnya masing-masing pihak ingin tampil wah di depan pasangannya. Bedak, gincu, parfum, pakaian bagus, mobil dan segala asesoris lainnya adalah sesuatu yang ditonjolkan. Semua sangat jauh dari kehidupan real nanti dalam keluarga. Padahal setelah menikah, justru semua itu akan ditinggalkan dan masing-masing baru akan tampil dengan wajah dan kelakuan aslinya. Padahal dahulu hal-hal seperti itu tidak pernah dibahas dalam masa pacaran, karena semua waktunya tersita untuk jatuh cinta.

Wallahu A`lam Bish-Showab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

------------------------

 

 

Mencari Jodoh Susah : ingin akhawat yang cantik, bolehkah ?

Pengirim: Abu Azwa-jaksel

Date: 17/04/03

Time: 16:45

 

Pertanyaan

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Kepada Ustadz yang semoga tetap dalam lindungan Alloh SWT. Ustadz, saya punya teman yang sudah ingin menikah secepatnya. Tapi sepengetahuan saya dia sering berproses dengan bebrapa akhwat tapi sering gagal dengan sebab yg macam-macam.

Belakangan ini saya coba bantu dia untuk mencarikan akhwat, tapi dia ternyata tidak berkenan. Dengan alasan sejak istihoroh tidak ada kemantapan dalam dirinya.

Yang saya tangkap dari dia adalah dia sangat mengharapkan akhwat dengan penampilan fisik yang ideal disamping akhlak, kafaah yg baik pula, salah satu persyaratan fisik yg dia kemukakan all : tidak gemuk (berat ideal), kulit kuning bersih, wajah tidak atraktif (mis. Gigi maju, hidung pesek dll), tiggi 160 cm keatas.

Jadi walau ada akhwat dgn kafaah syariah baik, tapi secara fisik belum memmenuhi kreteria diatas diapun sepertinya tetap menolak. Apalagi ortunya punya wanita pembanding tetangganya yg konon katanya juara putri minang (tentunya cuantik).

Pertanyaan saya sbb :

1. Bolehkah kita punya detail persyaratan (fisik) seperti itu, & sebatas mana kreteria fisik itu bias kita tolelir.

2. Benarkah sikap ikhwah tsb jika dia tetap bertahan pada prinsip/kreteria diatas ? alasannya

3. Bagaimana saya sebagai temannya menasehati dia.

4. Menurut ustad kecendrungan sikap apa yg ada pada diri ikhwan tsb?

Syukron saya tunggu jawaban ustad secepatnya

 

Jawaban

Assalamu `alaikum Wr. Wb.

Rasulullah SAW memang telah memberikan beberapa kriteria dalam menikahi wanita. Selain yang paling pokok masalah diennya, memang disebutkan masalah lainnya yaitu harta, nasab dan kecantikan.

Sebenarnya masalah ini manusiawi sekali dan merupakan fithrah manusia. Dan pada dasarnya tidak ada larangan bagi siapapun untuk menikah dengan wanita yang cantik menurut ukurannya. Hanya saja jangan sampai kriteria kecantikan itu lebih dominan dari agamanya sehingga sampai pada titik "yang penting cantik, agama nomor dua". Itu yang tidak boleh.

Tapi bila agamanya bagus dalam arti yang sesungguhnya, ditambah lagi dengan kecantikan, maka tentu saja lebih utama. Mengapa ? Karena Rasulullah SAW pun dalam masalah ini memberi isyarat meski tidak langsung.

Misalnya, beliau sering menyebutkan kriteria istri yang baik adalah bila kamu memandangnya, maka kamu gembira. Gembira karena banyak hal dan jelas salah satunya adalah kecantikannya.

Di lain waktu, Rasulullah SAW didatangi oleh salah seorang shahabat yang mengabarkan bahwa dia akan segera menikah. Rasulullah SAW bertanya apakah dia sudah melihat calon istrinya. Belum jawabnya. Maka Rasulullah SAW perintahkan agar melihat dulu calon istri itu. Melihat disini jelas sekali terkait dengan penampilan pisik atau kecantikan. Dan dalam taaruf, memang salah satu yang disyariatkan adalah melihat calon istri pada wajah dan tangannya.

Di saat lain, Rasulullah SAW pun pernah mengoreksi shahabat karena menikah tapi dengan janda, seolah-olah beliau ingin mengatakan bahwa sebaiknya menikahlah dengan perawan karena disitu ada kelebihan dan kesenangan yang halal.

Kesemua itu menunjukkan bahwa pada dasarnya keinginan untuk menikah dengan wanita yang cantik itu manusiawi dan dalam batas tertentu dibenarkan dalam Islam. Namun bila karena semata-mata mengejar kecantikan tapi mengorbankan hal-hal lain seperti akhlaq, agama, gaya hidup dan sebagainya, tentu saja tidak dapat dibenarkan.

Dalam hal ini, ada satu riwayat dimana Umar bin Al-Khatab pernah memerintahkan kepada Huzaifah bin Yaman untuk menceraikan istrinya yang baru dinikahinya di Madain dan juga kepada Thalhah bin Ubaidillah. Mereka menikahi wanita yahudi yang cantik yang sebenarnya dibolehkan dalam syariat Islam.

Namun Umar khawatir bahwa kecantikan para wanita yahudi itu akan menjerumskan kedua shahabatnya dan menimbulkan fitnah. Kekhawatiran ini bisa cukup beralasan karena bisa saja karena sekedar mengejar kecantikan, hal-hal lain yang lebih urgen terlupakan. Padahal kecantikan itu sendiri sifatnya fana dan tidak abadi. Jadi sungguh rugilah mereka yang hanya semata-mata mengejar kecantikan tanpa pertimbangan lainnya.

Tapi bila mendapatkan empat kriteria sekaligus, punya istri agamanya baik dan ahli ibadah, nasabnya berasal dari keturunan orang mulia dan terhormat, hartanya cukup untuk tujuh turunan dan cantik lagi (punya rumah bagus, mobil terbaru, tabungan banyak), maka itu merupakan karunia dari Allah yang wajib disyukuri.

Wallahu A`lam Bish-Showab,

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.

Back to Top Back to Materi Seputar Dunia Islam Back to Main Menu